Oleh M Ighfar Maulana (cluster 34)
Di era yang mulai
memasuki Social 5.0 ini, persaingan dalam ranah sosial semakin memuncak di mana
setiap manusia yang mengikuti arus zaman bergelut ria dengan isu-isu berbau
sosialita. Problematika tersebut menimbulkan banyak rasa kecemburuan sosial di
tengah masyarakat saat ini. Kemudian, masyarakat yang dianggap kalah dalam
bersaing seringkali mengalami hilangnya rasa kepercayaan diri. Unconfidence sendiri bermakna hilangnya
rasa percaya diri seseorang yang dihasilkan dari suatu reaksi akibat impuls tidak
dapat menerima keadaan diri sendiri. Seseorang yang kehilangan percaya diri
biasanya akan menghindari suatu massa karena malu akan keadaannya. Hal ini
sangat memprihatinkan mengingat orang yang kehilangan percaya dirinya tidak
memahami lagi apa itu self-love karena
orang tersebut akan selalu menyalahkan dan menganggap rendah diri sendiri
sebagai suatu kekurangan, alhasil orang tersebut akan lebih mengurangi aksi
dalam kegiatan sosial. Hal-hal demikian terjadi tentu karena kurangnya edukasi
baik dalam kehidupan bersosial maupun dalam konteks self-love itu sendiri. Dalam kesempatan ini, penulis akan
menjabarkan bagaimana cara memahami, menerima, dan menyayangi diri sendiri
dalam runtutan problematika Social 5.0, Pemahaman self-love, Keragaman individu, serta cara menghadapi rasa unconfidence itu sendiri.
Sejatinya, hidup
bersosial merupakan kebutuhan yang bisa dibilang primer dalam masyarakat karena
pasti setiap insan membutuhkan insan lain untuk berkomunikasi. Namun, terdapat
banyak isu atau masalah yang kadangkala dihadapi oleh masyarakat dalam memenuhi
kebutuhan primer tersebut, seperti pertikaian antarindividu, kecemburuan
sosial, persaingan popularitas, dan masih banyak lagi. Hal-hal demikian
merupakan salah satu dampak negatif dari kehidupan bersosial yang pasti
dijumpai. Di satu sisi, masyarakat memilih untuk tetap bersaing antar sesama
individu. Di sisi lain, kelanjutan dari persaingan tersebut membawa mereka ke
arah pertikaian yang mungkin menimbulkan disintegrasi. Problematika tersebut
memang merupakan suatu hal yang wajar terjadi, hanya saja bagaimana masyarakat
menyikapi persaingan tersebut agar dapat melaju ke persaingan secara sehat,
bukan yang mengakibatkan perpecahan sosial. Sayangnya, sebagian besar pemuda di
Indonesia merespons hal problematika sosial ini dengan kurang tepat yang
mengakibatkan para pemuda mengalami hilangnya percaya diri. Berdasarkan hasil
kajian yang pernah didapat oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak (KPPPA) Republik Indonesia, 56 persen anak-anak
Indonesia--yang didominasi anak perempuan--mengalami krisis kepercayaan diri.
Keadaan yang memprihatinkan tersebut dapat membuktikan bahwa pemuda di
Indonesia kurang memahami dan melaksanakan self-love
dengan baik.
Sampai saat ini, banyak
orang mengsalahartikan self-love
sebagai bentuk keegoisan dalam bersosial karena orang-orang dengan jiwa
tersebut pasti akan lebih mementingkan keaadannya sendiri ketimbang orang lain.
Lebih jauh lagi, self-love sering
dianggap sebagai kondisi dengan kurangnya rasa simpati dan empati. Pada
kenyataannya, anggapan-anggapan tersebut sangatlah salah total, Monica
Sulistiawati, M.Psi, psikolog dari Personal Growth mengatakan, self-love atau mencintai diri sendiri
adalah berusaha menerima diri sendiri apa adanya. Ia juga mengatakan, self-love ialah keadaan dapat menerima
segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri, menghargai diri sendiri,
memberikan dukungan pada diri sendiri, berusaha berbuat baik untuk diri
sendiri, dan berusaha memaafkan diri sendiri saat berbuat hal yang salah atau
keliru adalah poin pentingnya. "Self-love
merupakan usaha berbuat baik kepada diri sendiri seperti halnya kita berusaha
berbuat baik pada orang yang kita sayangi," katanya kepada AkuratHealth,
saat dihubungi, Minggu, (17/11/2019). Berdasar pendapat psikolog tersebut,
sudah sangat jelas bahwa mencintai diri sendiri sama sekali tidak berarti egois
sehingga masyarakat tidak perlu lagi takut untuk menambahkan sikap self-love pada salah satu prinsip
hidupnya.
Dalam kehidupan
sehari-hari, unconfidence yang sering
terjadi pada masyarakat terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu unconfidence of beauty standard dan unconfidence of character. Pertama,
kasus yang sangat krusial belakangan ini yaitu mengenai standard kecantikan
masyarakat. Di Asia ini, standard kecantikan cukup mengerucut bahkan tertuju
pada satu jenis kecantikan saja, seperti badan langsing, kulit putih pucat, mulus,
hidung mancung, lipatan pada mata, dan lain sebagainya. Lebih memprihatinkan
lagi, banyak orang yang mengecap dirinya sendiri sebagai “kentang” (keadaan di
mana kulit tampak sawo matang serta tidak mulus seperti halnya visual dari
kentang), yang berarti rasa kepercayaandirinya sudah dibilang dalam tahap kritis.
Dia menganggap orang dengan standard kecantikan sesuai menurutnya sebagai suatu
hal yang istimewa dan menganggap orang yang tidak ada pada standardnya rendah.
Orang-orang dengan pandangan seperti itu cenderung akan menyalahkan dirinya
sendiri bahkan takdir atas apa yang dia punya. Kedua, kasus ini cukup sensitif
di kalangan masyarakat karena kebanyakan masyarakat belum menyadari pentingnya
pikiran yang terbuka pada setiap karakter yang ada pada tiap individu. Pada kasus
kedua ini, stigma masyarakat masih mengerucut dan menganggap bahwa suatu
individu harus berada pada jalannya yang dianggap ideal oleh masyarakat. Contoh
kasus sederhana ialah laki-laki dianggap harus menyukai sepak bola, dilarang
keras mempunyai sifat feminin seperti skill memasak, riasan, boneka, dan lain
sebagainya. Hal tersebut berlaku pula bagi perempuan yang dianggap harus
memiliki sisi feminin lebih dominan. Hal-hal tersebutlah yang membuat seseorang
yang dianggap tidak ideal menurut masyarakat menyembunyikan karakter diri dan
memaksakan sesuai dengan karakter yang dianggap normal.
Menurut pakar neurologi,
Dr Ryo Husen, dalam survei SRMC mengatakan bahwa tidak ada yang namanya
ubnormal bahkan normal sekalipun, yang ada hanyalah varian atau keberagaman
dalam ilmu biologi. Bahkan dalam kromosom XX pada perempuan dan kromosom XY
pada laki-laki pun terdapat banyak keragaman, dan keberagaman kromosom itulah
yang membuat setiap individu memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Maka
dari itu, sudah sangat sewajarnya jika ditemukan seorang perempuan yang
memiliki karakter layaknya laki-laki, dan juga sebaliknya.
Adapun hal yang paling
sulit dan berat dibanding penjelasan-penjelasan di atas, yaitu bagaimana cara
menerima keadaan diri sendiri dan bertahan dari kritrikan serta hujatan
masyarakat saat ini. Langkah awal yang harus dilakukan dalam menerima serta
mencintai diri sendiri yaitu dengan membangun anggapan bahwa kebahagiaan
sendiri itu lebih penting dari kebahagiaan orang lain. Jika telah tertanam
prinsip seperti itu, seseorang akan lebih mudah mengembangkan skill dari
karakter serta passion yang ada. Prinsip
tersebutlah yang kemudian akan meningkatkan percaya diri seseorang lebih baik
lagi dan orang tersebut akan merasa bahwa karakter yang dimilikinya merupakan
suatu anugerah yang harus dimiliki serta dikembangkan dalam kehidupan
bermasyarakat. Adapun bagi orang yang senang mengkritik orang lain, sadarilah
bahwa anda memiliki lebih kekurangan yang harus anda benahi dibanding mengurusi
hidup orang lain.
Sebagai ringkasan, self-love merupakan sesuatu yang krusial dan wajib dimilki
sebagai salah satu bentuk mensyukuri apa yang ada pada diri setiap manusia.
0 komentar:
Posting Komentar