Minggu, 27 September 2020

"SELF-LOVE IS NOT A SELFSIH"

 

Oleh M Ighfar Maulana (cluster 34)

              Di era yang mulai memasuki Social 5.0 ini, persaingan dalam ranah sosial semakin memuncak di mana setiap manusia yang mengikuti arus zaman bergelut ria dengan isu-isu berbau sosialita. Problematika tersebut menimbulkan banyak rasa kecemburuan sosial di tengah masyarakat saat ini. Kemudian, masyarakat yang dianggap kalah dalam bersaing seringkali mengalami hilangnya rasa kepercayaan diri. Unconfidence sendiri bermakna hilangnya rasa percaya diri seseorang yang dihasilkan dari suatu reaksi akibat impuls tidak dapat menerima keadaan diri sendiri. Seseorang yang kehilangan percaya diri biasanya akan menghindari suatu massa karena malu akan keadaannya. Hal ini sangat memprihatinkan mengingat orang yang kehilangan percaya dirinya tidak memahami lagi apa itu self-love karena orang tersebut akan selalu menyalahkan dan menganggap rendah diri sendiri sebagai suatu kekurangan, alhasil orang tersebut akan lebih mengurangi aksi dalam kegiatan sosial. Hal-hal demikian terjadi tentu karena kurangnya edukasi baik dalam kehidupan bersosial maupun dalam konteks self-love itu sendiri. Dalam kesempatan ini, penulis akan menjabarkan bagaimana cara memahami, menerima, dan menyayangi diri sendiri dalam runtutan problematika Social 5.0, Pemahaman self-love, Keragaman individu, serta cara menghadapi rasa unconfidence itu sendiri.

              Sejatinya, hidup bersosial merupakan kebutuhan yang bisa dibilang primer dalam masyarakat karena pasti setiap insan membutuhkan insan lain untuk berkomunikasi. Namun, terdapat banyak isu atau masalah yang kadangkala dihadapi oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan primer tersebut, seperti pertikaian antarindividu, kecemburuan sosial, persaingan popularitas, dan masih banyak lagi. Hal-hal demikian merupakan salah satu dampak negatif dari kehidupan bersosial yang pasti dijumpai. Di satu sisi, masyarakat memilih untuk tetap bersaing antar sesama individu. Di sisi lain, kelanjutan dari persaingan tersebut membawa mereka ke arah pertikaian yang mungkin menimbulkan disintegrasi. Problematika tersebut memang merupakan suatu hal yang wajar terjadi, hanya saja bagaimana masyarakat menyikapi persaingan tersebut agar dapat melaju ke persaingan secara sehat, bukan yang mengakibatkan perpecahan sosial. Sayangnya, sebagian besar pemuda di Indonesia merespons hal problematika sosial ini dengan kurang tepat yang mengakibatkan para pemuda mengalami hilangnya percaya diri. Berdasarkan hasil kajian yang pernah didapat oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Republik Indonesia, 56 persen anak-anak Indonesia--yang didominasi anak perempuan--mengalami krisis kepercayaan diri. Keadaan yang memprihatinkan tersebut dapat membuktikan bahwa pemuda di Indonesia kurang memahami dan melaksanakan self-love dengan baik.

              Sampai saat ini, banyak orang mengsalahartikan self-love sebagai bentuk keegoisan dalam bersosial karena orang-orang dengan jiwa tersebut pasti akan lebih mementingkan keaadannya sendiri ketimbang orang lain. Lebih jauh lagi, self-love sering dianggap sebagai kondisi dengan kurangnya rasa simpati dan empati. Pada kenyataannya, anggapan-anggapan tersebut sangatlah salah total, Monica Sulistiawati, M.Psi, psikolog dari Personal Growth mengatakan, self-love atau mencintai diri sendiri adalah berusaha menerima diri sendiri apa adanya. Ia juga mengatakan, self-love ialah keadaan dapat menerima segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri, menghargai diri sendiri, memberikan dukungan pada diri sendiri, berusaha berbuat baik untuk diri sendiri, dan berusaha memaafkan diri sendiri saat berbuat hal yang salah atau keliru adalah poin pentingnya. "Self-love merupakan usaha berbuat baik kepada diri sendiri seperti halnya kita berusaha berbuat baik pada orang yang kita sayangi," katanya kepada AkuratHealth, saat dihubungi, Minggu, (17/11/2019). Berdasar pendapat psikolog tersebut, sudah sangat jelas bahwa mencintai diri sendiri sama sekali tidak berarti egois sehingga masyarakat tidak perlu lagi takut untuk menambahkan sikap self-love pada salah satu prinsip hidupnya.

              Dalam kehidupan sehari-hari, unconfidence yang sering terjadi pada masyarakat terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu unconfidence of beauty standard dan unconfidence of character. Pertama, kasus yang sangat krusial belakangan ini yaitu mengenai standard kecantikan masyarakat. Di Asia ini, standard kecantikan cukup mengerucut bahkan tertuju pada satu jenis kecantikan saja, seperti badan langsing, kulit putih pucat, mulus, hidung mancung, lipatan pada mata, dan lain sebagainya. Lebih memprihatinkan lagi, banyak orang yang mengecap dirinya sendiri sebagai “kentang” (keadaan di mana kulit tampak sawo matang serta tidak mulus seperti halnya visual dari kentang), yang berarti rasa kepercayaandirinya sudah dibilang dalam tahap kritis. Dia menganggap orang dengan standard kecantikan sesuai menurutnya sebagai suatu hal yang istimewa dan menganggap orang yang tidak ada pada standardnya rendah. Orang-orang dengan pandangan seperti itu cenderung akan menyalahkan dirinya sendiri bahkan takdir atas apa yang dia punya. Kedua, kasus ini cukup sensitif di kalangan masyarakat karena kebanyakan masyarakat belum menyadari pentingnya pikiran yang terbuka pada setiap karakter yang ada pada tiap individu. Pada kasus kedua ini, stigma masyarakat masih mengerucut dan menganggap bahwa suatu individu harus berada pada jalannya yang dianggap ideal oleh masyarakat. Contoh kasus sederhana ialah laki-laki dianggap harus menyukai sepak bola, dilarang keras mempunyai sifat feminin seperti skill memasak, riasan, boneka, dan lain sebagainya. Hal tersebut berlaku pula bagi perempuan yang dianggap harus memiliki sisi feminin lebih dominan. Hal-hal tersebutlah yang membuat seseorang yang dianggap tidak ideal menurut masyarakat menyembunyikan karakter diri dan memaksakan sesuai dengan karakter yang dianggap normal.

              Menurut pakar neurologi, Dr Ryo Husen, dalam survei SRMC mengatakan bahwa tidak ada yang namanya ubnormal bahkan normal sekalipun, yang ada hanyalah varian atau keberagaman dalam ilmu biologi. Bahkan dalam kromosom XX pada perempuan dan kromosom XY pada laki-laki pun terdapat banyak keragaman, dan keberagaman kromosom itulah yang membuat setiap individu memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Maka dari itu, sudah sangat sewajarnya jika ditemukan seorang perempuan yang memiliki karakter layaknya laki-laki, dan juga sebaliknya.

              Adapun hal yang paling sulit dan berat dibanding penjelasan-penjelasan di atas, yaitu bagaimana cara menerima keadaan diri sendiri dan bertahan dari kritrikan serta hujatan masyarakat saat ini. Langkah awal yang harus dilakukan dalam menerima serta mencintai diri sendiri yaitu dengan membangun anggapan bahwa kebahagiaan sendiri itu lebih penting dari kebahagiaan orang lain. Jika telah tertanam prinsip seperti itu, seseorang akan lebih mudah mengembangkan skill dari karakter serta passion yang ada. Prinsip tersebutlah yang kemudian akan meningkatkan percaya diri seseorang lebih baik lagi dan orang tersebut akan merasa bahwa karakter yang dimilikinya merupakan suatu anugerah yang harus dimiliki serta dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat. Adapun bagi orang yang senang mengkritik orang lain, sadarilah bahwa anda memiliki lebih kekurangan yang harus anda benahi dibanding mengurusi hidup orang lain.

              Sebagai ringkasan, self-love  merupakan sesuatu yang krusial dan wajib dimilki sebagai salah satu bentuk mensyukuri apa yang ada pada diri setiap manusia.

0 komentar:

Posting Komentar

 
SNSD's NEWS Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template