Minggu, 27 September 2020

Mental Health Is Crucial Nowadays!

Oleh M Ighfar Maulana (Cluster 34)

              Pada era globalisasi ini, terdapat banyak hal yang tentunya mengubah peradapan suatu wilayah bahkan hingga dunia sekalipun dengan ditandainya perubahan cara kerja, bersosial, serta cara berpikir dan berpandangan pada suatu masalah tertentu. Perubahan pola-pola kehidupan tersebut tentunya membuat masyarakat menjadi lebih maju serta mewujudkan segala hal menjadi lebih efektif dan efisien seperti halnya memudarkan tata kerja konvensional secara bertahap dengan seiringnya masyarakat mengenal teknologi. Di samping itu, terdapat juga hal-hal negatif yang tidak dapat dimungkiri lagi keberadaannya,  seperti membuat sikap dan budaya seseorang menjadi lebih individualis. Ditambah lagi, sekarang telah memasuki masa transisi dari Revolusi Industri 4.0 menuju Social 5.0 yang pasti menimbulkan efek yang sangat terasa pada lapisan masyarakat. Perubahan pada masa transisi ini dapat dikatakan sebagai masa labil bagi masyarakat dalam mengubah perilaku dan sikap mereka menjadi lebih ke arah sosialis di mana tidak semua lapisan masyarakat siap dan tahu bagaimana cara tepat untuk dapat segera mengadaptasikan diri. Akibatnya, masyarakat yang tidak menyesuaikan diri dengan baik biasanya akan mengalami gejolak mental yang cukup serius yang diakibatkan oleh ketidaksiapan masyarakat tersebut terjun ke arah arus globalisasi. Di satu sisi, masyarakat pasti harus melewati masa transisi ini dengan siap dan benar. Di sisi lain, Kurangnya edukasi masyarakat mengenai kesehatan mental menjadi isu yang sangat hangat belakangan ini. Maka dari itu, saya M Ighfar Maulana sebagai mahasiswa di Universitas Brawijaya ini mencoba memaparkan hal-hal yang sangat krusial mengenai pentingnya edukasi kesehatan masyarakat terutama di masa transisi ini dalam runtutan pemahaman mengenai mental health, isu kesehatan mental yang sedang panas-panasnya, pentingnya menjaga perilaku dalam bermasyarakat, serta solusi bagi mental health case tersendiri.

              Dalam pandangan masyarakat Indonesia sendiri, mental health atau kesehatan mental masih menjadi isu kesehatan yang sangat sepele keberadaannya. Bahkan data dari riset kesehatan dasar menyebutkan bahwa pada tahun 2013 terdapat 56.000 orang dengan gangguan mental yang dipasung karena stigma negatif, kurangnya informasi, dan buruknya fasilitas penanganan.  Lebih memprihatinkan lagi, seseorang yang memiliki gangguan mental sering dicap sebagai manusia yang kurang beriman atau kurang dekat kepada Tuhannya ataupun yang lainnya. Padahal justru tidak demikian, seseorang dikatakan sehat apabila memenuhi dua aspek, yaitu jasmani (kesehatan tubuh) dan rohani (kesehatan mental) karena dalam setiap individu manusia tidak hanya terdapat tubuh yang dapat terlihat oleh mata telanjang, tetapi juga ada sebuah sistem saraf dan hormon yang menentukan keadaan mental seseorang. Berdasarkan penjelasan tersebut, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan raga atau tubuh seseorang dan harus dirawat sebagaimana merawat tubuh sendiri. Namun sayangnya, dilansir dari “pijarpsikologi”, 4 dari 5 orang dengan gangguan mental belum mendapatkan penanganan yang sesuai dan pihak keluarga pun hanya menggunakan kurang dari 2% pendapatannya untuk penanganan orang dengan gangguan mental.

              Dalam ranah yang lebih sempit lagi, seorang siswa SMA biasanya akan lebih sulit menyelesaikan permasalahan mental yang ia hadapi karena beberapa alasan, yaitu siswa tersebut masih terpaut umur yang masih dianggap labil, tidak punya biaya yang cukup untuk pergi ke psikiater, dan juga lingkungan sekolah yang masih toxic yang membuat kesehatan mentalnya semakin lemah. Seorang siswa biasanya malu untuk datang ke BK di sekolahnya karena stigma remaja sekolah yang mengatakan bahwa siswa yang sering masuk BK berarti siswa yang bermasalah dengan sekolah atau siswa yang nakal. Bahkan, tidak jarang tenaga pendidik di BK tidak memberi solusi yang relevan dengan permasalahan yang siswa tersebut hadapi. Ini mencerminkan kurangnya pelatihan dan edukasi bagi para guru BK yang seharusnya dapat menenangkan dan memberi solusi atas masalah yang siswa hadapi. “Dalam menangani peserta didik yang bermasalah, guru pembimbing seringkali hanya menyalahkan peserta didik yang bersangkutan tanpa mau melihat faktor lainnya,” ujar Bagus Sanyoto, pakar pendidikan dari Surabaya ketika memberikan materi pelatihan tutor tes potensi akademik (TPA) bagi guru bimbingan konseling (BK) SMP/SMA di Lembaga Pengembangan Profesi Emerald Sidoarjo, Senin (10/4/2017).

              Berdasarkan masa transisi ini, kesehatan masyarakat muncul karena ketidaksiapan masyarakat berada pada masa transisi  yang berupa kecemburuan sosial, persaingan popularitas, serta sikap stress yang timbul sebagai suatu reaksi dari impuls kelelahan mental seseorang menghadapi banyak situasi buruk secara bersamaan. Akibat terburuk dari kejadian tesebut adalah pelampiasan menyakiti diri sendiri karena hilangnya kepercayaan pada dirinya sendiri sehingga menganggap dirinya tidak berguna dan pantas untuk disakiti. Suatu bentuk unconfidence ini sudah masuk ke dalam katerogi kritis yang harus segera ditangani oleh psikiater. Mirisnya lagi, seseorang dengan keadaan seperti tersebut atau bahkan yang telah mengakhiri hidupnya sendiri dianggap sebagai suatu tindakan tercela dan sangat berdosa lalu dikucilkan sampai benar-benar dianggap paling hina. Stigma masyarakat seperti itulah yang membuat seseorang yang sedang sakit mental memilih untuk diam dan bungkam yang selanjutnya memperparah keadaan mental orang tersebut. Solusi yang sangat tepat bagi kasus tersebut ialah dengan mengubah pandangan di masyrakat mengenai orang yang sedang sakit mental karena orang yang mengkritik atau bahkan yang menghujat tidak tahu apa yang sedang dialami oleh orang yang sakit mental tersebut. Cobalah untuk memosisikan diri pada orang yang sedang sakit mental tersebut agar memunculkan suatu rasa empati dan simpati pada dirinya.

              Langkah selanjutnya yang harus dilakukan dalam mewujudkan kesadaran masyarakat agar lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental ialah dengan kerjasama yang baik dari pihak medis, pemerintah, dan masyarakat itu sendiri. Pemerintah harus melakukan gerakan hidup sehat dalam ranah mental health dengan bantuan para tim medis kesehatan baik dalam bentuk sosialisasi ataupun penyuluhan, seperti seminar ataupun kegiatan kemasyarakatan lainnya supaya masyakarakat lebih memahami dan melaksanakan hidup sosial dengan lebih bijak lagi. Langkah selanjutnya, pemerintah harus menyediakan layanan konsul kesehatan mental bagi masyarakat dengan akses lebih mudah dan lebih terbuka lagi, karena kebanyakan orang yang telah mempunyai masalah mental akan bingung apa yang harus dilakukan lagi. Langkah terakhir yang mungkin efektif untuk dilakukan adalah menyediakan psikolog atau psikiater di setiap sekolah khusus untuk melayani konsultasi bagi para siswa yang ingin menyelesaikan masalahnya mengingat kebanyakan orang yang depresi atau mentalnya terganggu merupakan seorang remaja yang sedang mengenyam pendidikan. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan kasus kesehatan mental di Indonesia akan semakin berkurang dan terselesaikan dengan baik.

              Sebagai kesimpulan, setiap individu wajib menyadari akan pentingnya kesehatan mental bersamaan dengan kesehatan jasmani individu tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar

 
SNSD's NEWS Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template