Minggu, 27 September 2020

Mental Health Is Crucial Nowadays!

Oleh M Ighfar Maulana (Cluster 34)

              Pada era globalisasi ini, terdapat banyak hal yang tentunya mengubah peradapan suatu wilayah bahkan hingga dunia sekalipun dengan ditandainya perubahan cara kerja, bersosial, serta cara berpikir dan berpandangan pada suatu masalah tertentu. Perubahan pola-pola kehidupan tersebut tentunya membuat masyarakat menjadi lebih maju serta mewujudkan segala hal menjadi lebih efektif dan efisien seperti halnya memudarkan tata kerja konvensional secara bertahap dengan seiringnya masyarakat mengenal teknologi. Di samping itu, terdapat juga hal-hal negatif yang tidak dapat dimungkiri lagi keberadaannya,  seperti membuat sikap dan budaya seseorang menjadi lebih individualis. Ditambah lagi, sekarang telah memasuki masa transisi dari Revolusi Industri 4.0 menuju Social 5.0 yang pasti menimbulkan efek yang sangat terasa pada lapisan masyarakat. Perubahan pada masa transisi ini dapat dikatakan sebagai masa labil bagi masyarakat dalam mengubah perilaku dan sikap mereka menjadi lebih ke arah sosialis di mana tidak semua lapisan masyarakat siap dan tahu bagaimana cara tepat untuk dapat segera mengadaptasikan diri. Akibatnya, masyarakat yang tidak menyesuaikan diri dengan baik biasanya akan mengalami gejolak mental yang cukup serius yang diakibatkan oleh ketidaksiapan masyarakat tersebut terjun ke arah arus globalisasi. Di satu sisi, masyarakat pasti harus melewati masa transisi ini dengan siap dan benar. Di sisi lain, Kurangnya edukasi masyarakat mengenai kesehatan mental menjadi isu yang sangat hangat belakangan ini. Maka dari itu, saya M Ighfar Maulana sebagai mahasiswa di Universitas Brawijaya ini mencoba memaparkan hal-hal yang sangat krusial mengenai pentingnya edukasi kesehatan masyarakat terutama di masa transisi ini dalam runtutan pemahaman mengenai mental health, isu kesehatan mental yang sedang panas-panasnya, pentingnya menjaga perilaku dalam bermasyarakat, serta solusi bagi mental health case tersendiri.

              Dalam pandangan masyarakat Indonesia sendiri, mental health atau kesehatan mental masih menjadi isu kesehatan yang sangat sepele keberadaannya. Bahkan data dari riset kesehatan dasar menyebutkan bahwa pada tahun 2013 terdapat 56.000 orang dengan gangguan mental yang dipasung karena stigma negatif, kurangnya informasi, dan buruknya fasilitas penanganan.  Lebih memprihatinkan lagi, seseorang yang memiliki gangguan mental sering dicap sebagai manusia yang kurang beriman atau kurang dekat kepada Tuhannya ataupun yang lainnya. Padahal justru tidak demikian, seseorang dikatakan sehat apabila memenuhi dua aspek, yaitu jasmani (kesehatan tubuh) dan rohani (kesehatan mental) karena dalam setiap individu manusia tidak hanya terdapat tubuh yang dapat terlihat oleh mata telanjang, tetapi juga ada sebuah sistem saraf dan hormon yang menentukan keadaan mental seseorang. Berdasarkan penjelasan tersebut, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan raga atau tubuh seseorang dan harus dirawat sebagaimana merawat tubuh sendiri. Namun sayangnya, dilansir dari “pijarpsikologi”, 4 dari 5 orang dengan gangguan mental belum mendapatkan penanganan yang sesuai dan pihak keluarga pun hanya menggunakan kurang dari 2% pendapatannya untuk penanganan orang dengan gangguan mental.

              Dalam ranah yang lebih sempit lagi, seorang siswa SMA biasanya akan lebih sulit menyelesaikan permasalahan mental yang ia hadapi karena beberapa alasan, yaitu siswa tersebut masih terpaut umur yang masih dianggap labil, tidak punya biaya yang cukup untuk pergi ke psikiater, dan juga lingkungan sekolah yang masih toxic yang membuat kesehatan mentalnya semakin lemah. Seorang siswa biasanya malu untuk datang ke BK di sekolahnya karena stigma remaja sekolah yang mengatakan bahwa siswa yang sering masuk BK berarti siswa yang bermasalah dengan sekolah atau siswa yang nakal. Bahkan, tidak jarang tenaga pendidik di BK tidak memberi solusi yang relevan dengan permasalahan yang siswa tersebut hadapi. Ini mencerminkan kurangnya pelatihan dan edukasi bagi para guru BK yang seharusnya dapat menenangkan dan memberi solusi atas masalah yang siswa hadapi. “Dalam menangani peserta didik yang bermasalah, guru pembimbing seringkali hanya menyalahkan peserta didik yang bersangkutan tanpa mau melihat faktor lainnya,” ujar Bagus Sanyoto, pakar pendidikan dari Surabaya ketika memberikan materi pelatihan tutor tes potensi akademik (TPA) bagi guru bimbingan konseling (BK) SMP/SMA di Lembaga Pengembangan Profesi Emerald Sidoarjo, Senin (10/4/2017).

              Berdasarkan masa transisi ini, kesehatan masyarakat muncul karena ketidaksiapan masyarakat berada pada masa transisi  yang berupa kecemburuan sosial, persaingan popularitas, serta sikap stress yang timbul sebagai suatu reaksi dari impuls kelelahan mental seseorang menghadapi banyak situasi buruk secara bersamaan. Akibat terburuk dari kejadian tesebut adalah pelampiasan menyakiti diri sendiri karena hilangnya kepercayaan pada dirinya sendiri sehingga menganggap dirinya tidak berguna dan pantas untuk disakiti. Suatu bentuk unconfidence ini sudah masuk ke dalam katerogi kritis yang harus segera ditangani oleh psikiater. Mirisnya lagi, seseorang dengan keadaan seperti tersebut atau bahkan yang telah mengakhiri hidupnya sendiri dianggap sebagai suatu tindakan tercela dan sangat berdosa lalu dikucilkan sampai benar-benar dianggap paling hina. Stigma masyarakat seperti itulah yang membuat seseorang yang sedang sakit mental memilih untuk diam dan bungkam yang selanjutnya memperparah keadaan mental orang tersebut. Solusi yang sangat tepat bagi kasus tersebut ialah dengan mengubah pandangan di masyrakat mengenai orang yang sedang sakit mental karena orang yang mengkritik atau bahkan yang menghujat tidak tahu apa yang sedang dialami oleh orang yang sakit mental tersebut. Cobalah untuk memosisikan diri pada orang yang sedang sakit mental tersebut agar memunculkan suatu rasa empati dan simpati pada dirinya.

              Langkah selanjutnya yang harus dilakukan dalam mewujudkan kesadaran masyarakat agar lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental ialah dengan kerjasama yang baik dari pihak medis, pemerintah, dan masyarakat itu sendiri. Pemerintah harus melakukan gerakan hidup sehat dalam ranah mental health dengan bantuan para tim medis kesehatan baik dalam bentuk sosialisasi ataupun penyuluhan, seperti seminar ataupun kegiatan kemasyarakatan lainnya supaya masyakarakat lebih memahami dan melaksanakan hidup sosial dengan lebih bijak lagi. Langkah selanjutnya, pemerintah harus menyediakan layanan konsul kesehatan mental bagi masyarakat dengan akses lebih mudah dan lebih terbuka lagi, karena kebanyakan orang yang telah mempunyai masalah mental akan bingung apa yang harus dilakukan lagi. Langkah terakhir yang mungkin efektif untuk dilakukan adalah menyediakan psikolog atau psikiater di setiap sekolah khusus untuk melayani konsultasi bagi para siswa yang ingin menyelesaikan masalahnya mengingat kebanyakan orang yang depresi atau mentalnya terganggu merupakan seorang remaja yang sedang mengenyam pendidikan. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan kasus kesehatan mental di Indonesia akan semakin berkurang dan terselesaikan dengan baik.

              Sebagai kesimpulan, setiap individu wajib menyadari akan pentingnya kesehatan mental bersamaan dengan kesehatan jasmani individu tersebut.

Oleh M Ighfar Maulana (Cluster 34)

              Pada era globalisasi ini, terdapat banyak hal yang tentunya mengubah peradapan suatu wilayah bahkan hingga dunia sekalipun dengan ditandainya perubahan cara kerja, bersosial, serta cara berpikir dan berpandangan pada suatu masalah tertentu. Perubahan pola-pola kehidupan tersebut tentunya membuat masyarakat menjadi lebih maju serta mewujudkan segala hal menjadi lebih efektif dan efisien seperti halnya memudarkan tata kerja konvensional secara bertahap dengan seiringnya masyarakat mengenal teknologi. Di samping itu, terdapat juga hal-hal negatif yang tidak dapat dimungkiri lagi keberadaannya,  seperti membuat sikap dan budaya seseorang menjadi lebih individualis. Ditambah lagi, sekarang telah memasuki masa transisi dari Revolusi Industri 4.0 menuju Social 5.0 yang pasti menimbulkan efek yang sangat terasa pada lapisan masyarakat. Perubahan pada masa transisi ini dapat dikatakan sebagai masa labil bagi masyarakat dalam mengubah perilaku dan sikap mereka menjadi lebih ke arah sosialis di mana tidak semua lapisan masyarakat siap dan tahu bagaimana cara tepat untuk dapat segera mengadaptasikan diri. Akibatnya, masyarakat yang tidak menyesuaikan diri dengan baik biasanya akan mengalami gejolak mental yang cukup serius yang diakibatkan oleh ketidaksiapan masyarakat tersebut terjun ke arah arus globalisasi. Di satu sisi, masyarakat pasti harus melewati masa transisi ini dengan siap dan benar. Di sisi lain, Kurangnya edukasi masyarakat mengenai kesehatan mental menjadi isu yang sangat hangat belakangan ini. Maka dari itu, saya M Ighfar Maulana sebagai mahasiswa di Universitas Brawijaya ini mencoba memaparkan hal-hal yang sangat krusial mengenai pentingnya edukasi kesehatan masyarakat terutama di masa transisi ini dalam runtutan pemahaman mengenai mental health, isu kesehatan mental yang sedang panas-panasnya, pentingnya menjaga perilaku dalam bermasyarakat, serta solusi bagi mental health case tersendiri.

              Dalam pandangan masyarakat Indonesia sendiri, mental health atau kesehatan mental masih menjadi isu kesehatan yang sangat sepele keberadaannya. Bahkan data dari riset kesehatan dasar menyebutkan bahwa pada tahun 2013 terdapat 56.000 orang dengan gangguan mental yang dipasung karena stigma negatif, kurangnya informasi, dan buruknya fasilitas penanganan.  Lebih memprihatinkan lagi, seseorang yang memiliki gangguan mental sering dicap sebagai manusia yang kurang beriman atau kurang dekat kepada Tuhannya ataupun yang lainnya. Padahal justru tidak demikian, seseorang dikatakan sehat apabila memenuhi dua aspek, yaitu jasmani (kesehatan tubuh) dan rohani (kesehatan mental) karena dalam setiap individu manusia tidak hanya terdapat tubuh yang dapat terlihat oleh mata telanjang, tetapi juga ada sebuah sistem saraf dan hormon yang menentukan keadaan mental seseorang. Berdasarkan penjelasan tersebut, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan raga atau tubuh seseorang dan harus dirawat sebagaimana merawat tubuh sendiri. Namun sayangnya, dilansir dari “pijarpsikologi”, 4 dari 5 orang dengan gangguan mental belum mendapatkan penanganan yang sesuai dan pihak keluarga pun hanya menggunakan kurang dari 2% pendapatannya untuk penanganan orang dengan gangguan mental.

              Dalam ranah yang lebih sempit lagi, seorang siswa SMA biasanya akan lebih sulit menyelesaikan permasalahan mental yang ia hadapi karena beberapa alasan, yaitu siswa tersebut masih terpaut umur yang masih dianggap labil, tidak punya biaya yang cukup untuk pergi ke psikiater, dan juga lingkungan sekolah yang masih toxic yang membuat kesehatan mentalnya semakin lemah. Seorang siswa biasanya malu untuk datang ke BK di sekolahnya karena stigma remaja sekolah yang mengatakan bahwa siswa yang sering masuk BK berarti siswa yang bermasalah dengan sekolah atau siswa yang nakal. Bahkan, tidak jarang tenaga pendidik di BK tidak memberi solusi yang relevan dengan permasalahan yang siswa tersebut hadapi. Ini mencerminkan kurangnya pelatihan dan edukasi bagi para guru BK yang seharusnya dapat menenangkan dan memberi solusi atas masalah yang siswa hadapi. “Dalam menangani peserta didik yang bermasalah, guru pembimbing seringkali hanya menyalahkan peserta didik yang bersangkutan tanpa mau melihat faktor lainnya,” ujar Bagus Sanyoto, pakar pendidikan dari Surabaya ketika memberikan materi pelatihan tutor tes potensi akademik (TPA) bagi guru bimbingan konseling (BK) SMP/SMA di Lembaga Pengembangan Profesi Emerald Sidoarjo, Senin (10/4/2017).

              Berdasarkan masa transisi ini, kesehatan masyarakat muncul karena ketidaksiapan masyarakat berada pada masa transisi  yang berupa kecemburuan sosial, persaingan popularitas, serta sikap stress yang timbul sebagai suatu reaksi dari impuls kelelahan mental seseorang menghadapi banyak situasi buruk secara bersamaan. Akibat terburuk dari kejadian tesebut adalah pelampiasan menyakiti diri sendiri karena hilangnya kepercayaan pada dirinya sendiri sehingga menganggap dirinya tidak berguna dan pantas untuk disakiti. Suatu bentuk unconfidence ini sudah masuk ke dalam katerogi kritis yang harus segera ditangani oleh psikiater. Mirisnya lagi, seseorang dengan keadaan seperti tersebut atau bahkan yang telah mengakhiri hidupnya sendiri dianggap sebagai suatu tindakan tercela dan sangat berdosa lalu dikucilkan sampai benar-benar dianggap paling hina. Stigma masyarakat seperti itulah yang membuat seseorang yang sedang sakit mental memilih untuk diam dan bungkam yang selanjutnya memperparah keadaan mental orang tersebut. Solusi yang sangat tepat bagi kasus tersebut ialah dengan mengubah pandangan di masyrakat mengenai orang yang sedang sakit mental karena orang yang mengkritik atau bahkan yang menghujat tidak tahu apa yang sedang dialami oleh orang yang sakit mental tersebut. Cobalah untuk memosisikan diri pada orang yang sedang sakit mental tersebut agar memunculkan suatu rasa empati dan simpati pada dirinya.

              Langkah selanjutnya yang harus dilakukan dalam mewujudkan kesadaran masyarakat agar lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental ialah dengan kerjasama yang baik dari pihak medis, pemerintah, dan masyarakat itu sendiri. Pemerintah harus melakukan gerakan hidup sehat dalam ranah mental health dengan bantuan para tim medis kesehatan baik dalam bentuk sosialisasi ataupun penyuluhan, seperti seminar ataupun kegiatan kemasyarakatan lainnya supaya masyakarakat lebih memahami dan melaksanakan hidup sosial dengan lebih bijak lagi. Langkah selanjutnya, pemerintah harus menyediakan layanan konsul kesehatan mental bagi masyarakat dengan akses lebih mudah dan lebih terbuka lagi, karena kebanyakan orang yang telah mempunyai masalah mental akan bingung apa yang harus dilakukan lagi. Langkah terakhir yang mungkin efektif untuk dilakukan adalah menyediakan psikolog atau psikiater di setiap sekolah khusus untuk melayani konsultasi bagi para siswa yang ingin menyelesaikan masalahnya mengingat kebanyakan orang yang depresi atau mentalnya terganggu merupakan seorang remaja yang sedang mengenyam pendidikan. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan kasus kesehatan mental di Indonesia akan semakin berkurang dan terselesaikan dengan baik.

              Sebagai kesimpulan, setiap individu wajib menyadari akan pentingnya kesehatan mental bersamaan dengan kesehatan jasmani individu tersebut.

"SELF-LOVE IS NOT A SELFSIH"

 

Oleh M Ighfar Maulana (cluster 34)

              Di era yang mulai memasuki Social 5.0 ini, persaingan dalam ranah sosial semakin memuncak di mana setiap manusia yang mengikuti arus zaman bergelut ria dengan isu-isu berbau sosialita. Problematika tersebut menimbulkan banyak rasa kecemburuan sosial di tengah masyarakat saat ini. Kemudian, masyarakat yang dianggap kalah dalam bersaing seringkali mengalami hilangnya rasa kepercayaan diri. Unconfidence sendiri bermakna hilangnya rasa percaya diri seseorang yang dihasilkan dari suatu reaksi akibat impuls tidak dapat menerima keadaan diri sendiri. Seseorang yang kehilangan percaya diri biasanya akan menghindari suatu massa karena malu akan keadaannya. Hal ini sangat memprihatinkan mengingat orang yang kehilangan percaya dirinya tidak memahami lagi apa itu self-love karena orang tersebut akan selalu menyalahkan dan menganggap rendah diri sendiri sebagai suatu kekurangan, alhasil orang tersebut akan lebih mengurangi aksi dalam kegiatan sosial. Hal-hal demikian terjadi tentu karena kurangnya edukasi baik dalam kehidupan bersosial maupun dalam konteks self-love itu sendiri. Dalam kesempatan ini, penulis akan menjabarkan bagaimana cara memahami, menerima, dan menyayangi diri sendiri dalam runtutan problematika Social 5.0, Pemahaman self-love, Keragaman individu, serta cara menghadapi rasa unconfidence itu sendiri.

              Sejatinya, hidup bersosial merupakan kebutuhan yang bisa dibilang primer dalam masyarakat karena pasti setiap insan membutuhkan insan lain untuk berkomunikasi. Namun, terdapat banyak isu atau masalah yang kadangkala dihadapi oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan primer tersebut, seperti pertikaian antarindividu, kecemburuan sosial, persaingan popularitas, dan masih banyak lagi. Hal-hal demikian merupakan salah satu dampak negatif dari kehidupan bersosial yang pasti dijumpai. Di satu sisi, masyarakat memilih untuk tetap bersaing antar sesama individu. Di sisi lain, kelanjutan dari persaingan tersebut membawa mereka ke arah pertikaian yang mungkin menimbulkan disintegrasi. Problematika tersebut memang merupakan suatu hal yang wajar terjadi, hanya saja bagaimana masyarakat menyikapi persaingan tersebut agar dapat melaju ke persaingan secara sehat, bukan yang mengakibatkan perpecahan sosial. Sayangnya, sebagian besar pemuda di Indonesia merespons hal problematika sosial ini dengan kurang tepat yang mengakibatkan para pemuda mengalami hilangnya percaya diri. Berdasarkan hasil kajian yang pernah didapat oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Republik Indonesia, 56 persen anak-anak Indonesia--yang didominasi anak perempuan--mengalami krisis kepercayaan diri. Keadaan yang memprihatinkan tersebut dapat membuktikan bahwa pemuda di Indonesia kurang memahami dan melaksanakan self-love dengan baik.

              Sampai saat ini, banyak orang mengsalahartikan self-love sebagai bentuk keegoisan dalam bersosial karena orang-orang dengan jiwa tersebut pasti akan lebih mementingkan keaadannya sendiri ketimbang orang lain. Lebih jauh lagi, self-love sering dianggap sebagai kondisi dengan kurangnya rasa simpati dan empati. Pada kenyataannya, anggapan-anggapan tersebut sangatlah salah total, Monica Sulistiawati, M.Psi, psikolog dari Personal Growth mengatakan, self-love atau mencintai diri sendiri adalah berusaha menerima diri sendiri apa adanya. Ia juga mengatakan, self-love ialah keadaan dapat menerima segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri, menghargai diri sendiri, memberikan dukungan pada diri sendiri, berusaha berbuat baik untuk diri sendiri, dan berusaha memaafkan diri sendiri saat berbuat hal yang salah atau keliru adalah poin pentingnya. "Self-love merupakan usaha berbuat baik kepada diri sendiri seperti halnya kita berusaha berbuat baik pada orang yang kita sayangi," katanya kepada AkuratHealth, saat dihubungi, Minggu, (17/11/2019). Berdasar pendapat psikolog tersebut, sudah sangat jelas bahwa mencintai diri sendiri sama sekali tidak berarti egois sehingga masyarakat tidak perlu lagi takut untuk menambahkan sikap self-love pada salah satu prinsip hidupnya.

              Dalam kehidupan sehari-hari, unconfidence yang sering terjadi pada masyarakat terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu unconfidence of beauty standard dan unconfidence of character. Pertama, kasus yang sangat krusial belakangan ini yaitu mengenai standard kecantikan masyarakat. Di Asia ini, standard kecantikan cukup mengerucut bahkan tertuju pada satu jenis kecantikan saja, seperti badan langsing, kulit putih pucat, mulus, hidung mancung, lipatan pada mata, dan lain sebagainya. Lebih memprihatinkan lagi, banyak orang yang mengecap dirinya sendiri sebagai “kentang” (keadaan di mana kulit tampak sawo matang serta tidak mulus seperti halnya visual dari kentang), yang berarti rasa kepercayaandirinya sudah dibilang dalam tahap kritis. Dia menganggap orang dengan standard kecantikan sesuai menurutnya sebagai suatu hal yang istimewa dan menganggap orang yang tidak ada pada standardnya rendah. Orang-orang dengan pandangan seperti itu cenderung akan menyalahkan dirinya sendiri bahkan takdir atas apa yang dia punya. Kedua, kasus ini cukup sensitif di kalangan masyarakat karena kebanyakan masyarakat belum menyadari pentingnya pikiran yang terbuka pada setiap karakter yang ada pada tiap individu. Pada kasus kedua ini, stigma masyarakat masih mengerucut dan menganggap bahwa suatu individu harus berada pada jalannya yang dianggap ideal oleh masyarakat. Contoh kasus sederhana ialah laki-laki dianggap harus menyukai sepak bola, dilarang keras mempunyai sifat feminin seperti skill memasak, riasan, boneka, dan lain sebagainya. Hal tersebut berlaku pula bagi perempuan yang dianggap harus memiliki sisi feminin lebih dominan. Hal-hal tersebutlah yang membuat seseorang yang dianggap tidak ideal menurut masyarakat menyembunyikan karakter diri dan memaksakan sesuai dengan karakter yang dianggap normal.

              Menurut pakar neurologi, Dr Ryo Husen, dalam survei SRMC mengatakan bahwa tidak ada yang namanya ubnormal bahkan normal sekalipun, yang ada hanyalah varian atau keberagaman dalam ilmu biologi. Bahkan dalam kromosom XX pada perempuan dan kromosom XY pada laki-laki pun terdapat banyak keragaman, dan keberagaman kromosom itulah yang membuat setiap individu memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Maka dari itu, sudah sangat sewajarnya jika ditemukan seorang perempuan yang memiliki karakter layaknya laki-laki, dan juga sebaliknya.

              Adapun hal yang paling sulit dan berat dibanding penjelasan-penjelasan di atas, yaitu bagaimana cara menerima keadaan diri sendiri dan bertahan dari kritrikan serta hujatan masyarakat saat ini. Langkah awal yang harus dilakukan dalam menerima serta mencintai diri sendiri yaitu dengan membangun anggapan bahwa kebahagiaan sendiri itu lebih penting dari kebahagiaan orang lain. Jika telah tertanam prinsip seperti itu, seseorang akan lebih mudah mengembangkan skill dari karakter serta passion yang ada. Prinsip tersebutlah yang kemudian akan meningkatkan percaya diri seseorang lebih baik lagi dan orang tersebut akan merasa bahwa karakter yang dimilikinya merupakan suatu anugerah yang harus dimiliki serta dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat. Adapun bagi orang yang senang mengkritik orang lain, sadarilah bahwa anda memiliki lebih kekurangan yang harus anda benahi dibanding mengurusi hidup orang lain.

              Sebagai ringkasan, self-love  merupakan sesuatu yang krusial dan wajib dimilki sebagai salah satu bentuk mensyukuri apa yang ada pada diri setiap manusia.

 

Oleh M Ighfar Maulana (cluster 34)

              Di era yang mulai memasuki Social 5.0 ini, persaingan dalam ranah sosial semakin memuncak di mana setiap manusia yang mengikuti arus zaman bergelut ria dengan isu-isu berbau sosialita. Problematika tersebut menimbulkan banyak rasa kecemburuan sosial di tengah masyarakat saat ini. Kemudian, masyarakat yang dianggap kalah dalam bersaing seringkali mengalami hilangnya rasa kepercayaan diri. Unconfidence sendiri bermakna hilangnya rasa percaya diri seseorang yang dihasilkan dari suatu reaksi akibat impuls tidak dapat menerima keadaan diri sendiri. Seseorang yang kehilangan percaya diri biasanya akan menghindari suatu massa karena malu akan keadaannya. Hal ini sangat memprihatinkan mengingat orang yang kehilangan percaya dirinya tidak memahami lagi apa itu self-love karena orang tersebut akan selalu menyalahkan dan menganggap rendah diri sendiri sebagai suatu kekurangan, alhasil orang tersebut akan lebih mengurangi aksi dalam kegiatan sosial. Hal-hal demikian terjadi tentu karena kurangnya edukasi baik dalam kehidupan bersosial maupun dalam konteks self-love itu sendiri. Dalam kesempatan ini, penulis akan menjabarkan bagaimana cara memahami, menerima, dan menyayangi diri sendiri dalam runtutan problematika Social 5.0, Pemahaman self-love, Keragaman individu, serta cara menghadapi rasa unconfidence itu sendiri.

              Sejatinya, hidup bersosial merupakan kebutuhan yang bisa dibilang primer dalam masyarakat karena pasti setiap insan membutuhkan insan lain untuk berkomunikasi. Namun, terdapat banyak isu atau masalah yang kadangkala dihadapi oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan primer tersebut, seperti pertikaian antarindividu, kecemburuan sosial, persaingan popularitas, dan masih banyak lagi. Hal-hal demikian merupakan salah satu dampak negatif dari kehidupan bersosial yang pasti dijumpai. Di satu sisi, masyarakat memilih untuk tetap bersaing antar sesama individu. Di sisi lain, kelanjutan dari persaingan tersebut membawa mereka ke arah pertikaian yang mungkin menimbulkan disintegrasi. Problematika tersebut memang merupakan suatu hal yang wajar terjadi, hanya saja bagaimana masyarakat menyikapi persaingan tersebut agar dapat melaju ke persaingan secara sehat, bukan yang mengakibatkan perpecahan sosial. Sayangnya, sebagian besar pemuda di Indonesia merespons hal problematika sosial ini dengan kurang tepat yang mengakibatkan para pemuda mengalami hilangnya percaya diri. Berdasarkan hasil kajian yang pernah didapat oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Republik Indonesia, 56 persen anak-anak Indonesia--yang didominasi anak perempuan--mengalami krisis kepercayaan diri. Keadaan yang memprihatinkan tersebut dapat membuktikan bahwa pemuda di Indonesia kurang memahami dan melaksanakan self-love dengan baik.

              Sampai saat ini, banyak orang mengsalahartikan self-love sebagai bentuk keegoisan dalam bersosial karena orang-orang dengan jiwa tersebut pasti akan lebih mementingkan keaadannya sendiri ketimbang orang lain. Lebih jauh lagi, self-love sering dianggap sebagai kondisi dengan kurangnya rasa simpati dan empati. Pada kenyataannya, anggapan-anggapan tersebut sangatlah salah total, Monica Sulistiawati, M.Psi, psikolog dari Personal Growth mengatakan, self-love atau mencintai diri sendiri adalah berusaha menerima diri sendiri apa adanya. Ia juga mengatakan, self-love ialah keadaan dapat menerima segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri, menghargai diri sendiri, memberikan dukungan pada diri sendiri, berusaha berbuat baik untuk diri sendiri, dan berusaha memaafkan diri sendiri saat berbuat hal yang salah atau keliru adalah poin pentingnya. "Self-love merupakan usaha berbuat baik kepada diri sendiri seperti halnya kita berusaha berbuat baik pada orang yang kita sayangi," katanya kepada AkuratHealth, saat dihubungi, Minggu, (17/11/2019). Berdasar pendapat psikolog tersebut, sudah sangat jelas bahwa mencintai diri sendiri sama sekali tidak berarti egois sehingga masyarakat tidak perlu lagi takut untuk menambahkan sikap self-love pada salah satu prinsip hidupnya.

              Dalam kehidupan sehari-hari, unconfidence yang sering terjadi pada masyarakat terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu unconfidence of beauty standard dan unconfidence of character. Pertama, kasus yang sangat krusial belakangan ini yaitu mengenai standard kecantikan masyarakat. Di Asia ini, standard kecantikan cukup mengerucut bahkan tertuju pada satu jenis kecantikan saja, seperti badan langsing, kulit putih pucat, mulus, hidung mancung, lipatan pada mata, dan lain sebagainya. Lebih memprihatinkan lagi, banyak orang yang mengecap dirinya sendiri sebagai “kentang” (keadaan di mana kulit tampak sawo matang serta tidak mulus seperti halnya visual dari kentang), yang berarti rasa kepercayaandirinya sudah dibilang dalam tahap kritis. Dia menganggap orang dengan standard kecantikan sesuai menurutnya sebagai suatu hal yang istimewa dan menganggap orang yang tidak ada pada standardnya rendah. Orang-orang dengan pandangan seperti itu cenderung akan menyalahkan dirinya sendiri bahkan takdir atas apa yang dia punya. Kedua, kasus ini cukup sensitif di kalangan masyarakat karena kebanyakan masyarakat belum menyadari pentingnya pikiran yang terbuka pada setiap karakter yang ada pada tiap individu. Pada kasus kedua ini, stigma masyarakat masih mengerucut dan menganggap bahwa suatu individu harus berada pada jalannya yang dianggap ideal oleh masyarakat. Contoh kasus sederhana ialah laki-laki dianggap harus menyukai sepak bola, dilarang keras mempunyai sifat feminin seperti skill memasak, riasan, boneka, dan lain sebagainya. Hal tersebut berlaku pula bagi perempuan yang dianggap harus memiliki sisi feminin lebih dominan. Hal-hal tersebutlah yang membuat seseorang yang dianggap tidak ideal menurut masyarakat menyembunyikan karakter diri dan memaksakan sesuai dengan karakter yang dianggap normal.

              Menurut pakar neurologi, Dr Ryo Husen, dalam survei SRMC mengatakan bahwa tidak ada yang namanya ubnormal bahkan normal sekalipun, yang ada hanyalah varian atau keberagaman dalam ilmu biologi. Bahkan dalam kromosom XX pada perempuan dan kromosom XY pada laki-laki pun terdapat banyak keragaman, dan keberagaman kromosom itulah yang membuat setiap individu memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Maka dari itu, sudah sangat sewajarnya jika ditemukan seorang perempuan yang memiliki karakter layaknya laki-laki, dan juga sebaliknya.

              Adapun hal yang paling sulit dan berat dibanding penjelasan-penjelasan di atas, yaitu bagaimana cara menerima keadaan diri sendiri dan bertahan dari kritrikan serta hujatan masyarakat saat ini. Langkah awal yang harus dilakukan dalam menerima serta mencintai diri sendiri yaitu dengan membangun anggapan bahwa kebahagiaan sendiri itu lebih penting dari kebahagiaan orang lain. Jika telah tertanam prinsip seperti itu, seseorang akan lebih mudah mengembangkan skill dari karakter serta passion yang ada. Prinsip tersebutlah yang kemudian akan meningkatkan percaya diri seseorang lebih baik lagi dan orang tersebut akan merasa bahwa karakter yang dimilikinya merupakan suatu anugerah yang harus dimiliki serta dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat. Adapun bagi orang yang senang mengkritik orang lain, sadarilah bahwa anda memiliki lebih kekurangan yang harus anda benahi dibanding mengurusi hidup orang lain.

              Sebagai ringkasan, self-love  merupakan sesuatu yang krusial dan wajib dimilki sebagai salah satu bentuk mensyukuri apa yang ada pada diri setiap manusia.

 
SNSD's NEWS Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template